Download OkeKlinik App

Temukan Dokter

Komunikasikan masalah kesehatan dengan mudah

Hidup Sehat

6 Tips Cara Menjaga Kesehatan Mental Remaja

Artikel dipublikasikan : 12 Mei 2022 14:09
Dibaca : 214 kali

 

Pembatasan sosial berskala besar selama masa pandemi COVID-19 dapat berdampak pada kesehatan mental remaja. Mereka kehilangan momen keseharian  dengan teman-teman di sekolah. Berkaitan dengan itu, UNICEF (United Nations Children's Fund) memberikan tips cara menjaga kesehatan mental remaja. 

Enam tips cara menjaga kesehatan mental remaja yang disampaikan di laman UNICEF ini bersumber dari Dr. Lisa Damour, psikolog remaja, penulis buku best seller dan juga kolumnis media New York Times. Menurutnya, menjadi remaja adalah hal yang tidak mudah, ditambah lagi dengan datangnya pandemi COVID-19, maka menjadi remaja menjadi  semakin sulit, karena cemas,  terisolasi, kecewa. Ditutupnya sekolah, dibatalkannya berbagai acara, membuat banyak remaja kehilangan beberapa momen besar dan juga momen keseharian seperti mengobrol dengan teman dan berpartisipasi di kelas. 

Dr. Damour membagikan enam tips penting untuk dilakukan, sebagai cara menjaga kesehatan mental remaja dalam menghadapi masalahnya pada masa pandemi.  

  1. Menyadari bahwa kecemasan adalah hal yang wajar

Tips pertama yang terpenting adalah menyadari bahwa kecemasan yang kamu alami adalah hal yang wajar, karena kecemasan serupa juga dirasakan oleh kebanyakan remaja seusiamu. Penutupan sekolah juga dialami para remaja lainnya di seluruh dunia. Jadi, jangan khawatir, kamu tidak sendirian. 

Menurut para psikolog, kecemasan adalah fungsi normal dan sehat yang bisa membuat kita waspada terhadap ancaman, dan membantu kita untuk mengambil tindakan untuk melindungi diri.  Kecemasan akan membantu dalam pengambilan keputusan yang harus dibuat pada saat ini, seperti misalnya keputusan untuk  tidak menghabiskan waktu bersama orang lain atau dalam kelompok besar, mencuci tangan dan tidak menyentuh wajah.

Dengan demikian, perasaan cemas itu juga bermanfaat untuk orang lain. Dengan adanya kecemasan terpapar virus COVID-19, bukan hanya bermanfaat dalam menjaga diri sendiri, tetapi turut membuat kita ikut menjaga kesehatan masyarakat, memikirkan orang-orang di sekitar. 

Gunakan sumber informasi terpercaya: Selama masa pandemi  virus COVID-19, informasi dan disinformasi atau hoaks beredar melalui berbagai platform media informasi, seperti sosial media. Untuk mengurangi kecemasan, pastikan sumber informasi yang kamu ikuti mengenai COVID-19 adalah sumber-sumber informasi yang terpercaya, resmi, dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Misalnya, situs WHO atau UNICEF. Cek lagi informasi yang kamu dapatkan, terutama ketika hendak disebarluaskan melalui social media.

Bicarakan dengan orang tua: Jika mengalami gejala yang menunjukan kamu terpapar virus COVID-19, segera bicarakan dengan orang tua kamu terlebih dahulu. Perlu dipahami bahwa, gejala COVID-19 yang terjadi pada anak-anak dan remaja, pada umumnnya merupakan gejala ringan yang bisa diobati. Pikiran yang positif harus dijaga, karena hal itu berhubungan dengan imunitas tubuh. Semakin positif pikiran kamu, maka akan semakin memperkuat imun tubuh.

Jalankan protokol kesehatan: Agar diri kita dan orang lain merasa tetap aman terkendali, sering-sering mencuci tangan dengan sabun secara benar, gunakan masker saat berada di luar rumah, dan lakukan social distancing.

  1. Cari pengalihan

Tips berikutnya adalah mengalihkan perhatian dari masalah yang tidak bisa dikendalikan. Sebelum itu, identifikasi terlebih dahulu apa saja  masalah yang kamu hadapi, dibagi ke dalam dua kategori. Yaitu: (1) masalah yang bisa dikendalikan, (2) masalah yang tidak bisa dikendalikan. 

Hal ini sangat penting, saat berada dalam kondisi yang sangat sulit. Dengan demikian, kamu bisa fokus pada penyelesaian masalah yang bisa kamu kendalikan. Dan kemudian melakukan pengalihan dari masalah-masalah yang tidak bisa dikendalikan. Mengerjakan PR, menonton film kesukaan, atau membaca novel sebelum tidur adalah hal-hal yang disarankan oleh Dr. Damour, untuk menjaga kesehatan mental, menemukan keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari.

3. ‚ÄčTemukan cara baru untuk berkomunikasi dengan teman-teman

Meski tak dapat bertemu langsung secara tatap muka dengan teman-teman, kamu bisa berkomunikasi melalui media social selam masa pandemi COVID-19 berlangsung. Misalnya, dengan menyalurkan kreativitas remaja melalui Tik-Tok challenge seperti #safehands, #dirumahaja, dan lain-lain. 

Masa remaja akan diwarnai dengan berbagai  kreativitas remaja. Hal itu dapat disalurkan melalui media sosial. Namun, jangan kelamaan bermain gadget, karena kebiasaan tersebut juga tidak baik untuk kesehatan mental, karena akan dapat menambah kecemasan. Jadi, Dr. Damour menyarankan agar berkonsultasi dengan orang tua untuk mengatur jadwal penggunaan gadget.

  1. Fokus pada diri sendiri 

Pada tips nomor empat dalam menjaga kesehatan mental remaja, adalah memfokuskan diri pada pengembangan pengetahuan dan keterampilan pribadi. Misalnya dengan cara membaca buku-buku baru, atau belajar cara memainkan alat musik tertentu. Inilah saatnya untuk meningkatkan keahlian kamu. Oleh karenanya, kamu harus fokus pada diri sendiri, memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, agar tetap produktif, terutama  untuk menjaga kesehatan mental kamu.

  1. Selami perasaanmu

Pembatasan kegiatan selama masa pandemi menyebabkan para remaja dan juga semua orang, merasa kehilangan kesempatan untuk mengikuti berbagai acara dengan teman, acara untuk menyalurkan hobi, pertandingan olahraga. Tentu hal itu sangat mengecewakan. Kekecewaan tersebut  wajar dialami oleh para remaja, kata Dr. Damour. 

Cara terbaik untuk mengatasi kekecewaan: Biarkan dirimu merasakan kekecewaan karena berbagai pembatasan kegiatan selama masa pandemi. Tips penting adalah satu-satunya jalan keluarnya  adalah dengan berusaha melaluinya. Lanjutkan hidupmu, dan jika merasa sedih, selami perasaanmu. “Jika kamu bisa membiarkan dirimu merasa sedih, akan lebih cepat pula kamu merasa lebih baik,”kata Dr.Damour. 

Setiap orang mempunyai cara tersendiri untuk mengolah perasaan. Beberapa anak remaja akan menyalurkan perasaan dengan membuat karya seni, sedangkan yang lainnya memilih berbicara dengan teman-teman, menggunakan kesedihan yang dirasakan bersama sebagai cara untuk merasa terhubung di tengah situasi ketika tidak dapat bertemu secara fisik. Ada pula beberapa beberapa anak memilih untuk mencari cara untuk berdonasi makanan. Apapun cara yang dilakukan untuk mengatasi kekecewaan, terpenting adalah kamu melakukan hal yang terasa benar bagimu. 

  1. Berbaik hati pada diri sendiri dan orang lain

Bullying dan pelecehan adakalanya dialami oleh remaja di sekolah pada masa pandemi COVID-19. Remaja yang menjadi target bullying tidak seharusnya diminta untuk melawan para pelaku secara langsung, namun kamulah yang memberikan pertolongan, mencari dukungan dari teman-teman dan orang dewasa untuk menghadapi pelaku. 

Jadi, apabila melihat temanmu dibuli, cobalah dekati dan tawarkan dukungan kepadanya. Hal ini akan berefek positif pada dirinya. Sebaliknya, jika tidak melakukan apapun mak itu  bisa membuat teman yang dibuli tersebut merasa bahwa tidak ada yang peduli padanya. Kata-kata yang terucap dari mulutmu bisa membuat perubahan. Ingat, pada saat ini, merupakan waktu yang paling penting bagi kita untuk untuk lebih bijaksana dalam memutuskan apa yang akan kita bagikan atau katakan kepada orang lain dibandingkan masa-masa sebelum terjadinya pandemi COVID-19.

Demikianlah tips cara menjaga kesehatan mental untuk remaja yang dapat dilakukan pada masa pandemi COVID-19 berlangsung saat ini. Kamu bisa praktekan keenam tips tadi, dan bagikan artikel ini kepada teman-teman yang sedang mengalami kecemasan menghadapi situasi dan berbagai pembatasan kegiatan ini. 

______________________ 

Referensi : 

Unicef Indonesia (diakses pada 2022), 6 Tips Remaja Bisa Menjaga Kesehatan Mental Selama Corona Virus (COVID-19)
CDC (2021), About Mental Health. 
Strengthening Mental Health Promotion. Fact sheet no. 220. Geneva, Switzerland: World Health Organization.
Chronic Illness & Mental Health. Bethesda, MD: National Institutes of Health, National Institute of Mental Health. 2015.
Kessler RC, Angermeyer M, Anthony JC, et al. Lifetime prevalence and age-of-onset distributions of mental disorders in the World Health Organization’s World Mental Health Survey Initiative. World Psychiatry. 2007;6(3):168-176.
Merikangas KR, He J, Burstein M, et al. Lifetime Prevalence of Mental Disorders in US Adolescents: Results from the National Comorbidity Study-Adolescent Supplement (NCS-A). Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry. 2010;49(10):980-989. doi:10.1016/j.jaac.2010.05.017.
Key substance use and mental health indicators in the United States: Results from the 2015 National Survey on Drug Use and Health. Rockville, MD: Center for Behavioral Health Statistics and Quality. Substance Abuse and Mental Health Services Administration. 2016.

Hubungi Kami
Terace Mahakam, Jl. Mahakam No.6, Kramat Pela,
Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan,
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12130
02122772701
business.support@okeklinik.com
help@okeklinik.com