Download OkeKlinik App

Temukan Dokter

Komunikasikan masalah kesehatan dengan mudah

Hidup Sehat

Anemia, Kurangnya Hemoglobin dan Jenis-jenisnya

Artikel dipublikasikan : 4 Oktober 2021 18:40
Dibaca : 219 kali

Anemia atau lebih umum dikenal dengan penyakit kurang darah adalah kondisi tubuh kekurangan sel darah merah yang sehat atau sel darah merah tidak dapat berfungsi dengan baik. Penyakit ini merupakan gangguan darah atau kelainan hematologgi yang terjadi ketika kadar hemoglobin atau Hb (bagian utama sel darah merah yang mengikat oksigen) lebih rendah dari nilai normal. Untuk itulah penting mengetahui kadar normal hemoglobin pada tubuh, karena nilai Hb pada setiap orang akan berbeda-beda. 

Berikut adalah kadar Hb normal berdasarkan usia dalam satuan ukur gram per desiliter :

  • Bayi 0-12 bulan : 11 g/dL
  • Anak usia 1-6 tahun : 11,5 g/dL
  • Anak usia 6-18 tahun : 12 g/dL
  • Wanita dewasa diatas 18 tahun : 12 g/dL
  • Pria dewasa diatas 18 tahun : 13 g/dL
  • Wanita hamil : 11 g/dL

Kadar hemoglobin dapat diketahui melalui tes darah dengan cara pemeriksaan sampel darah yang diambil dari pembuluh vena pada lengan. Kekurangan darah dapat terjadi sementara atau dalam jangka waktu yang panjang dengan tingkat keparahan mulai dari ringan hingga berat. Namun pada kasus sebagian orang, kadar hemoglobin yang rendah tidak menimbulkan gejala. Akan tetapi jika nilai Hb terlalu rendah maka akan menimbulkan gejala seperti mudah lelah, sering sakit kepala dan sesak nafas, sehingga orang yang mengalami anemia akan terlihat pucat dibanding dengan orang lain. 

Penyakit anemia pada seseorang dapat disebabkan oleh beberapa hal. Beberapa kondisi yang menjadi penyebab tubuh kehilangan darah antara lain adalah perdarahan akibat cedera atau operasi, perdarahan di saluran pencernaan akibat tukak lambung, wasir atau kanker usus, perdarahan di saluran kemih, menstruasi berat atau menorraghia, infeksi kronis seperti cacingan, atau juga dikarenakan terlalu sering melakukan donor darah.

Baca Juga : Lakukan Ini Untuk Cegah Anemia

Ada banyak jenis anemia yang dapat dialami seseorang. Beberapa jenis anemia tersebut antara lain adalah :

  • Thalassemia 

Merupakan kelainan darah dari faktor genetik yang mengakibatkan protein dalam sel darah merah tidak berfungsi normal. Adapun gejala orang yang mengalami thalassemia adalah mudah merasa ngantuk, sering merasa letih hingga nyaris pingsang, sampai gejala kesulitan bernafas.

  • Anemia sel sabit

Disebabkan oleh mutasi gen yang diturunkan dari kedua orangtua atau resesif autosomal. Mutasi ini menimbulkan berbagai gangguan pada tubuh yang dikarenakan sel darah merah berbentuk tidak normal.

  • Anemia pernisiosa

Anemia yang diakibatkan tubuh kekurangan vitamin B12 dan juga karena kondisi autoimun yang mempengaruhi penyerapan vitamin B12 di sistem pencernaan. Anemia pernisiosa menyebabkan sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel di perut yang menghasilkan faktor intrinsik sehingga tubuh tidak mampu menyerap vitamin B12.

  • Anemia megaloblastic

Kondisi anemia yang sangat jarang terjadi dialami seseorang. Merupakan kurangnya sel darah merah dalam tubuh akibat sumsum tulang menghasilkan sel darah merah yang belum matang dengan struktur abnormal dan berukuran terlalu besar. 

  • Anemia aplastic

Disebabkan oleh sistem imun yang menyerang sel induk di sumsum belakang, yang mengakibatkan berkurangnya produksi sel darah merah bahkan hingga benar-benar berhenti produksi. 

  • Anemia hemolitik

Merupakan penyakit anemia yang diakibatkan penghancuran sel darah merah lebih cepat dibandingkan pembentukannya. Pada kondisi awal, sumsum tulang belakang akan mengatasi kekurangan darah merah dengan cara menghasilkan sel darah lebih cepat untuk mengganti hemoglobin yang hancur. Namun jika kondisi sel darah hancur terjadi secara terus menerus, maka kompensasi dari sumsum tulang akan mengalami kegagalan sehingga membutuhkan perhatian khusus. 

Selain beberapa jenis anemia diatas, ada pula beberapa jenis anemia lainnya yang dapat terjadi seperti anemia defisiensi B12, anemia defisiensi folat, anemia defisiensi besi, dan anemia karena penyakit kronis. 

Baca Juga : Waspadai Anemia Pada Kehamilan

Perlu diperhatikan pula faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan risiko terjadinya anemia sehingga dapat dihindari sejak dini. Inilah beberapa faktor yang bisa menjadi pemicu meningkatkan risiko anemia pada seseorang :

  • Hiportiroidisme atau hipoteroid, kebanyakan dialami wanita berusia lanjut yang diakibatkan kurangnya hormone tiroid sehingga membuat penderitanya sering merasa mudah lelah dan sulit berkonsentrasi.

  • Stimulasi produksi sel darah merah yang tidak memadai karena pengaruh hormon.

  • Kekurangan vitamin dan nutrisi seperti kekurangan zat besi, vitamin B12, dan folat

  • Gangguan yang meningkatkan kerusakan sel darah merah

  • Berkurangnya kemampuan menyerap nutrisi dan vitamin akibat gangguan usus

  • Faktor genetik yang diturunkan dari orangtua

  • Paparan zat beracun, kondisi imun, dan lain sebagainya.

Kekurangan hemoglobin dapat diatasi dengan cara meningkatkan kadar sel darah merah atau dengan cara melakukan pengobatan pada penyakit yang menjadi penyebab kadar hemoglobin berkurang. Beberapa langkah penanganan yang bisa dilakukan antara lain yaitu :

Baca Juga : Penyebab Anemia Yang Umum Terjadi

  • Meningkatkan asupan vitamin B12, zat besi, dan folat

Cara paling utama untuk mencukupi kebutuhan hemoglobin dalam tubuh adalah dengan cara mengonsumsi zat besi, folat, dan vitamin B12 yang cukup. Adapun asupan sumber ketiganya bisa didapatkan dari hati ayam atau sapi, daging, makanan laut seperti kerang, udang dan ikan, kacang-kacangan seperti kacang kedelai, kacang merah dan kacang hijau, sereal yang diperkaya zat besi ataupun folat, serta sayuran hijau seperti bayam, brokoli dan kale. Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan mengonsumsi suplemen yang mengandung zat besi, folat, dan vitamin B12. Namun cara ini dapat menimbulkan efek samping seperti sembelit, mual, sakit perut hingga feses yang kehitaman. Untuk itulah sangat penting bagi seseorang yang mengonsumsi suplemen tersebut, dalam pengawasan dokter atau sudah mendapat anjuran resep.

  • Terapi eritropoietin

Terapi ini dilakukan untuk merangsang produksi sel darah merah. Terapi eritropoietin dilakukan untuk anemia akibat penyakit ginjal berat sehingga menyebabkan berkurangnya produksi hormon eritropoietin. Selain itu penggunaan hormon ini juga dapat mengobati anemia dikarenakan efek samping kemoterapi, gangguan sumsum tulang, atau anemia yang disebabkan oleh penyakit kanker.

  • Transfusi darah

Transfusi darah diperlukan untuk meningkatkan sel darah merah saat tubuh tak lagi mampu menghasilkan Hb dengan kadar normal akibat penyakit tertentu seperti thalassemia dan anemia sel sabit. Transfusi darah diberikan kepada orang-orang yang kadar Hb sudah jauh dibawah normal untuk menghindari kekurangan Hb yang semakin parah.

  • Terapi sel punca 

Terapi sel punca atau stem cell therapy adalah sebuah terapi pengobatan hemoglobin akibat thalassemia. Pada umumnya penderita thalassemia harus rutin mendapat tranfusi darah agar kebutuhan sel darah merahnya tercukupi. Namun transfusi darah dapat menimbulkan risiko jika dilakukan terus-menerus dalam jangka waktu yang cukup panjang. Untuk itulah perlu dilakukan terapi sel punca. Terapi ini dilakukan dengan cara operasi cangckok atau transplantasi sumsum tulang untuk dapat menunjang produksi hemoglobin yang normal. 

Kekurangan sel darah merah dengan gejala adalah sesuatu hal yang perlu mendapat perhatian. Lakukan konsultasi dan segera periksa ke dokter, jika sudah mengalami gejala yang berkelanjutan. Kunjungi website www.okeklinik.com atau download aplikasi Oke Klinik, untuk mendapat fasilitas teknologi yang menghubungkan kamu dengan mitra atau rekanan penyedia jasa kesehatan, yang sudah terlisensi secara medis di masing-masing bidang

Hubungi Kami
Terace Mahakam, Jl. Mahakam No.6, Kramat Pela,
Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan,
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12130
02122772701
business.support@okeklinik.com
help@okeklinik.com