Download OkeKlinik App

Temukan Dokter

Komunikasikan masalah kesehatan dengan mudah

Hidup Sehat

Ciri-Ciri Penyakit Kista Pada Wanita yang Belum Menikah

Artikel dipublikasikan : 22 Oktober 2021 23:27
Dibaca : 1486 kali

Penyakit kista dapat timbul sejak wanita mengalami menstruasi pertama. Jadi, pada usia remaja atau sebelum menikah, penyakit kista bisa saja menyerang wanita. Berbahayakah? Apa dan bagaimana gejalanya? Berikut ini ciri-ciri penyakit kista pada wanita yang belum menikah. 

Banyak orang mengira bahwa kista merupakan penyakit yang timbul pada wanita yang telah menikah. Tak sedikit yang terkecoh dengan asumsi bahwa kista tak mungkin menyerang remaja putri atau kaum wanita pada masa puber. Namun ketika ditemukan ciri-ciri penyakit kista pada wanita yang belum menikah, barulah kemudian orang percaya.  Contohnya adalah penyakit kista ovarium. 

Sejatinya, ciri-ciri penyakit kista pada wanita yang belum menikah itu telah nampak semenjak menstruasi pertama. Bahkan, menurut U.S National Library of Medicine (NLM), risiko paling tinggi terkena kista ovarium terjadi pada wanita pada usia pubertas sampai menopause. Mengapa? Karena pada usia tersebut wanita masih mengalami menstruasi. 

Apa itu kista?

Kista dapat dipahami sebagai struktur jaringan abnormal, mirip kantung, yang mengandung gas, zat cair, atau benda semi-padat, dan memiliki dinding luar berbentuk seperti kapsul. Ukurannya, beragam. Ada kista yang kecil dan hanya bisa dilihat melalui mikroskop. Namun ada pula yang berukuran sangat besar. Kista dapat tumbuh di bagian tubuh manapun.

Jenis-jenis kista

Penyakit kista memiliki banyak jenis. Penamaan jenis-jenis penyakit kista pada umumnya didasarkan pada lokasi kemunculannya. Contoh kasus yang sering ditemukan adalah  kista ovarium, kista payudara, kista hati, kista ginjal, kista pankreas, kista vagina, kista kulit, dan kista tiroid.

Kista ovarium

Diantara beberapa jenis kista yang terletak pada organ reproduksi wanita, terdapat salah satu jenis yang ditemukan pada wanita yang belum menikah. Kista ini dinamakan kista ovarium atau kista indung telur. Kista ovarium adalah kantung yang berisi cairan dan ditemukan di ovarium. 

Bahaya kista ovarium

Jangan khawatir dengan kista ovarium, karena tidak semua jenis kista ovarium dapat mengganggu kesuburan. Hanya dua jenis kista yang mengganggu kesuburan atau membuat wanita tidak bisa hamil, yaitu kista PCOS atau Polycystic Ovary Syndrome dan Endometris.  

Sedangkan kista yang tidak menyebabkan gangguan kesuburan adalah kista fungsional, kista denoma, dan kista dermoid. 

Baca Juga: Benarkah Kista Bartholin Bisa Sembuh Sendiri ?

Kista  fungsional 

Selama fase menstruasi, ovarium akan menghasilkan telur dari pematangan kantung yang disebut folikel. Kista biasanya akan tumbuh pada usia reproduksi wanita. Yakni sejak usia  remaja hingga terjadinya menopause. Kebanyakan dari kista ini tidak berbahaya atau boleh dikata sebagai kista yang fungsional. 

Hanya sekitar 4-10% wanita yang mengalami gangguan kista serius seperti PCOS (Polycystic Ovarian Syndrome). Timbulnya kista tidak ada hubungannya dengan pernikahan atau rumah tangga. Penyakit kista dapat timbul pada wanita yang belum menikah, yakni semenjak terjadinya menstruasi yang pertama. 

Kista ovarium patologis

Benjolan kista yang berkembang karena pertumbuhan sel yang tidak normal dapat  menimbulkan gejala sehingga memerlukan perawatan khusus untuk menanganinya. Kista jenis ini disebut dengan kista ovarium patologis. Kista ini bisa jinak atau ganas seperti kanker.

Ciri-ciri penyakit kista pada wanita yang belum menikah 

Benjolan kista yang terdapat di kulit atau jaringan di bawah kulit pada umumnya dapat dirasakan. Namun, ciri-ciri penyakit kista pada wanita yang belum menikah ataupun yang sudah menikah, pada umumnya diketahui setelah dilakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG), X-Ray, atau CAT Scan. Gejala kista sendiri berbeda-beda, tergantung pada ukuran dan lokasinya.

Gejala kista ovarium

Kista ovarium dapat terjadi pada wanita yang belum menikah. Gejala atau ciri-ciri penyakit kista pada wanita yang belum menikah antara lain adalah sering munculnya rasa nyeri di pinggang kanan dan kiri. Rasa nyeri ringan ini bisa menyebar ke punggung bawah dan paha. Nyeri juga bisa dirasakan saat buang air besar atau ketika ada tekanan pada usus. Selain itu, nyeri juga bisa terjadi sebelum periode menstruasi dimulai dan sebelum berakhir. 

Sedangkan pada wanita yang sudah menikah, rasa nyeri tersebut akan terasa saat sedang melakukan hubungan intim (dyspareunia) dengan pasangan.

Selain rasa nyeri, ciri-ciri penyakit kista pada wanita yang belum menikah juga bisa ditandai pada saat haid. Yakni adanya perdarahan yang tidak normal. 

Benjolan di perut, tekanan pada kemih sehingga bikin sering buang air kecil, atau kesulitan mengosongkan kemih,  juga menjadi ciri-ciri penyakit kista. Gejala demam biasanya akan menyertai tanda-tanda tadi.  

Penyebab penyakit kista 

Penyebab penyakit kista ovarium antara lain adalah kelainan hormonal, penggunaan obat-obaan tertentu, infeksi radang panggul atau riwayat kista.  

Sementara penyebab penyakit kista secara umum, antara lain, adalah: 

  • Infeksi

  • Tumor

  • Pembengkakan kronis

  • Warisan genetik

  • Kelainan perkembangan pada janin

Baca Juga: Ketahui Organ Reproduksi Wanita dan Fungsinya

5 faktor yang dapat memperparah penyakit kista

Sekurangnya terdapat 5 faktor yang dapat memperparah penyakit kista pada wanita yang belum menikah maupun yang sudah menikah. Kelima faktor tersebut adalah sebagai berikut 

  1. Faktor Usia

U.S National Library of Medicine (NLM) dalam salah satu risetnya menyebutkan bahwa wanita usianya berada diantara usia pubertas sampai dengan usia menopause menempati risiko paling tinggi terkena kista ovarium. Sebab, pada periode tersebut wanita masih mengalami periode menstruasi. Saat menstruasi, benjolan cairan di ovarium bisa saja terbentuk. Benjolan cikal bakal kista tersebut bisa hilang dengan sendirinya dan tidak membesar. 

Meskipun kondisi penyebab kista ovarium itu jarang terjadi pada wanita setelah menopause, namun wanita yang sudah menopause dan mempunyai benjolan berisi cairan di ovarium beresiko lebih tinggi terkena kanker ovarium.

  1. Kemoterapi dengan tamoxifen

Wanita belum menikah, penderita kanker payudara, yang pernah menjalankan kemoterapi dengan tamoxifen memiliki risiko lebih tinggi mempunyai benjolan di ovarium. Sebab efek samping tamoxifen adalah dapat menimbulkan benjolan di ovarium. Namun, benjolan berisi cairan tersebut dapat hilang setelah pengobatan selesai.

  1. Sindrom ovarium polikistik (PCOS)

Wanita yang belum menikah dan memiliki sindrom ovarium polikistik mempunyai risiko benjolan di ovarium yang lebih tinggi. Sindrom ovarium polikistik adalah kondisi dimana  tubuh tidak memproduksi cukup hormon bagi folikel dalam ovarium untuk melepaskan sel telur, sehingga terbentuk benjolan folikel. Sindrom ovarium polikistik juga dapat mengganggu produksi hormon pada wanita, sehingga menimbulkan berbagai masalah. 

  1. Endometriosis

Endometriosis merupakan kondisi ketika bagian dari jaringan yang melapisi rahim (endometrium) terbentuk di bagian luar rahim, seperti pada tuba falopi, ovarium, kandung kemih, usus besar, vagina, atau rektum. Kantung berisi darah atau benjolan fibroid bisa saja terbentuk pada jaringan endometrium tersebut. Endometrioma atau benjolan berisi yang terbentuk karena endometriosis dapat menyebabkan nyeri saat berhubungan seksual dan selama periode menstruasi.

  1. Obat penyubur kandungan

Berbagai obat penyubur kandungan untuk membantu terjadinya ovulasi atau proses melepaskan sel telur seperti gonadotropin, clomiphene citrate, atau letrozole dapat menjadi faktor yang meningkatkan kondisi penyakit kista. Penggunaan obat penyubur kandungan dapat meningkatkan risiko adanya benjolan di ovarium. Penggunaan obat ini dapat menyebabkan terbentuknya kista dalam jumlah banyak dan dalam ukuran besar pada ovarium. Kondisi ini disebut dengan sindrom hiperstimulasi ovarium atau ovarian hyperstimulation syndrome.

Diagnosis penyakit kista ovarium

Ciri-ciri penyakit kista ovarium pada wanita yang belum menikah dan wanita yang sudah menikah dapat dipastikan setelah dilakukan diagnosis oleh dokter. Dalam diagnosis ini pemeriksaan yang dilakukan adalah anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang seperti USG.

Setelah menemukan diagnosis yang tepat pada pasien penyakit kista, dokter biasanya akan memberikan opsi pengobatan. Apabila penyakit kista ini masih ringan maka dapat diberikan terapi hormonal, yakni terapi dengan memberikan obat-obatan. 

Namun, apabila penyakit kista ovarium ini sudah parah, dimana kista ovarium sudah besar dan berukuran lebih dari 9 cm, maka akan dilakukan tindakan pembedahan.  

Pencegahan kista ovarium

Kista ovarium dapat dicegah dengan menjalani pola hidup sehat. Pilih asupan makanan dan minuman yang bergizi dengan memperbanyak sayuran dan buah. Sebaiknya hindari konsumsi makanan asam dan pedas. Perbanyak minum air putih, minimal 3-4 liter per hari, akan lebih baik daripada kurang minum air putih. Hindari minuman yang mengandung kafein, soda, dan alkohol. Kelola stres dengan baik, dan beristirahat yang cukup minimal 6-8 jam per hari. 

Baca Juga: Penyebab Sakit Perut Bagian Bawah Pada Wanita

Anda dapat berkonsultasi dengan dokter, bila mendapati ciri-ciri dan gejala penyakit kista sebagaimana dipaparkan di atas. Dokter profesional yang bekerja sama dengan platform layanana kesehatan digital OkeKlinik adalah pilihan yang tepat untuk berkonsultasi secara daring melalui fitur chat dan video call. Unduh aplikasi OkeKlinik melalui Play Store dan lakukan registrasi sebelum menggunakan layanan telemedisin canggih ini.  

__________________ 

Referensi : 

Mayo Clinic (2022), Ovarian cysts. 
Office on Women’s Health. (2014). Ovarian cysts [Fact sheet].womenshealth.gov/a-z-topics/ovarian-cysts
Ovarian torsion. (2015). bestpractice.bmj.com/best-practice/monograph/792.html
FAQs: Ovarian cysts. American College of Obstetricians and Gynecologists. https://www.acog.org/womens-health/faqs/ovarian-cysts. Accessed April 9, 2022.
Ovarian cysts. Office on Women's Health. https://www.womenshealth.gov/a-z-topics/ovarian-cysts. Accessed April 9, 2022.
Muto MG. Approach to the patient with an adnexal mass. https://www.uptodate.com/contents/search. Accessed April 9, 2022.
Sharp HT. Evaluation and management of ruptured ovarian cyst. https://www.uptodate.com/contents/search. Accessed April 9, 2022.
Hochberg L, et al. Types of adnexal masses. https://www.uptodate.com/contents/search. Accessed April 9, 2022.
American College of Obstetricians and Gynecologists. Practice Bulletin No. 174: Evaluation and management of adnexal masses. Obstetrics & Gynecology. 2016; doi:10.1097/AOG.0000000000001768.
Burnett TL (expert opinion). Mayo Clinic. April 15, 2022.

Hubungi Kami
Terace Mahakam, Jl. Mahakam No.6, Kramat Pela,
Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan,
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12130
02122772701
business.support@okeklinik.com
help@okeklinik.com