Download OkeKlinik App

Temukan Dokter

Komunikasikan masalah kesehatan dengan mudah

Hidup Sehat

Gejala dan Perkembangan COVID Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5

Artikel dipublikasikan : 9 Juli 2022 19:02
Dibaca : 821 kali

 

Subvarian baru virus Omicron ditemukan di Afrika Selatan pertama kali pada Februari 2022. Beberapa bulan kemudian, pada awal Juni 2022, pemerintah Indonesia mengonfirmasi virus ini sudah masuk ke Bali, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Bagaimana gejala dan perkembangan COVID Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 saat ini? 

Pandemi COVID masih berlangsung hingga saat ini. Sampai dengan hari Sabtu 9 Juli 2022, Satuan Tugas Penanganan COVID-19 melaporkan  adanya 2.705 kasus baru COVID-19 sehingga jumlah total kasus aktif adalah 19.855 kasus.  

Laporan yang diumumkan melalui situs Covid19.go.id tersebut juga menyebutkan bahwa sampai  dengan hari ini (Sabtu 9-7-2022) jumlah total kasus COVID-19 adalah 6.108.729 kasus. 

Dari total jumlah kasus COVID-19 itu, pasien yang sembuh bertambah 1.973 sehingga totalnya menjadi 5.932.089 pasien yang sembuh. 

Sedangkan pasien yang meninggal dunia bertambah 4 orang, sehingga totalnya menjadi 156.785 pasien meninggal. 

Baca Juga: Cara Melindungi Diri Selama Pandemi COVID-19

Gejala COVID Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5

Virus yang kini sedang kembali menyebar, masih merupakan turunan Omicron, dan dinamakan Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5. Bagaimana gejala dan perkembangan Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 ini? 

Gejala   

Berikut ini delapan gejala yang pada umumnya dirasakan oleh pasien yang terpapar virus Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5: 

  1. Batuk

  2. Fatigue atau kelelahan 

  3. Hidung tersumbat atau rinore 

  4. Demam 

  5. Mual atau muntah 

  6. Sesak nafas 

  7. Diare 

  8. Anosmia atau ageusia 

Baca Juga: Waspada Gejala Umum Covid-19!

Sejauh ini diketahui bahwa subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 lebih mudah menular dibandingkan virus sebelumnya. Diketahui pula terdapat potensi subvarian tersebut dapat meloloskan diri dari kekebalan.  Jadi, semua orang memiliki risiko yang sama besar untuk terpapar subvarian tersebut.

Mudah bereplikasi di sel paru 

Para peneliti di Tokyo mengungkapkan bahwa subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 itu lebih berisiko menyebabkan gejala parah. Peneliti menemukan bahwa BA.4 dan BA.5 lebih mudah bereplikasi di sel paru-paru manusia dan berpotensi menimbulkan masalah lebih besar ketimbang varian BA.2 yang muncul sebelumnya. 

Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 mempertahankan beberapa mutasi dari varian Delta, yang merupakan bagian dari genom yang disebut residu L452. Mutasi tersebut kemudian mengubah protein lonjakan untuk membantu virus menempel lebih baik pada reseptor ACE 2 di sel manusia dan menyebabkan penyakit.

Perkembangan subvarian Omicron BA.4 dan BA.5

Di Indonesia, kenaikan kasus mulai terlihat dalam beberapa hari terakhir seiring ditemukannya subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 pada awal Juni 2022 lalu. Melansir Kompas.com, Indonesia mencatat angka kasus harian di atas 1.000 dalam tujuh hari berturut-turut, pada saat awal subvarian baru ini terkonfirmasi. 

Pada pertengahan Juni 2022 lalu, Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 20 kasus BA.4 dan BA.5 terkonfirmasi di Indonesia. 

Adapun wilayah yang pertama-tema muncul kasus BA.4 dan BA.5 adalah: 

  • Bali sebanyak 4 kasus (1 kasus BA.4 dan 3 kasus BA.5)

  • DKI Jakarta sebanyak 4 kasus  (1 kasus BA.4 dan 3 kasus BA.5)

  • Jawa Barat sebanyak 12 kasus (BA.5). 

Baca Juga: Yuk, Tetap Cegah Penyebaran COVID 19 Selama Mudik !

Kasus tertinggi terjadi di Jakarta 

Kasus COVID-19 subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 ini  paling banyak terjadi di wilayah Provinsi DKI Jakarta, yakni 1.476 kasus. 

Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.380 merupakan transmisi lokal dan 96 lainnya pelaku perjalanan luar negeri. Sementara itu, Jawa Barat menjadi penyumbang kasus harian terbanyak kedua dengan 485 kasus.
Data selengkapnya penyebaran kasus baru COVID 19 pada Sabtu 9  Juli 2022 adalah sebagai berikut :
1. Aceh: 0
2. Sumatera Utara: 11
3. Sumatera Barat: 2
4. Riau: 4
5. Jambi: 1
6. Sumatera Selatan: 7
7. Bengkulu: 0
8. Lampung: 4
9. Bangka Belitung: 1
10. Kepulauan Riau: 1
11. DKI Jakarta: 1.476
12. Jawa Barat: 485
13. Jawa Tengah: 60
14. DI Yogyakarta: 27
15. Jawa Timur: 156
16. Banten: 324
17. Bali: 84
18. Nusa Tenggara Barat: 1
19. Nusa Tenggara Timur: 5
20. Kalimantan Barat: 8
21. Kalimantan Tengah: 4
22. Kalimantan Selatan: 16
23. Kalimantan Timur: 5
24. Kalimantan Utara: 0
25. Sulawesi Utara: 2
26. Sulawesi Tengah: 1
27. Sulawesi Selatan: 14
28. Sulawesi Tenggara: 1
29. Gorontalo: 0
30. Sulawesi Barat: 0
31. Maluku: 0
32. Maluku Utara: 0
33. Papua: 4
34. Papua Barat: 1

Manfaat melengkapi dosis vaksinasi

Melansir Satuan Tugas Penanganan COVID-19 pada laman Covid19.go.id,  bahwa vaksinasi lengkap dan booster mampu mengurangi risiko dirawat dan kematian. Data Kementerian Kesehatan  menunjukkan bahwa 70% dari 8.230 pasien meninggal akibat COVID-19 belum menerima vaksinasi lengkap.

Baca Juga: Protokol Kesehatan Covid-19 : Dari 3M Jadi 5M

Kenapa harus melengkapi vaksin hingga dosis lanjutan (booster)?

Vaksinasi booster dapat meningkatkan imunitas hingga 2 kali  lipat dibanding vaksinasi dosis kedua. 

Booster dapat melindungi orang tua dan kelompok masyarakat rentan atau yang memiliki komorbid dari penularan COVID-19. 

Saat ini stok vaksin COVID-19 untuk booster lebih dari cukup. Jika sudah tiba giliran kamu, segerakan untuk dapatkan booster. 

Bagaimana bila saya terlambat melengkapi vaksinasi dosis kedua saya?

Informasi yang diberikan oleh Satgas COVID-19 adalah sebagai berikut: 

  1. Bagi sasaran yang mengalami drop out dalam rentang waktu kurang dari enam bulan dapat diberikan vaksin kedua dengan jenis vaksin yang berbeda sesuai ketersediaan di masing-masing daerah.

  2. Bagi sasaran yang mengalami drop out dalam waktu lebih dari enam bulan, maka vaksinasi primer nya dilanjutkan kembali sebanyak 2 kali dan vaksinasi dapat menggunakan jenis vaksin yang berbeda dari vaksin semula.

  3. Mengingat saat ini vaksin Sinovac yang didistribusikan jumlahnya terbatas dan diperuntukkan bagi sasaran anak usia 6-11 tahun, maka sasaran yang drop out dapat menggunakan vaksin dengan jenis yang berbeda dan tersedia untuk melengkapi dosis keduanya dengan mengutamakan vaksin yang memiliki masa kadaluarsa terdekat.

Jenis vaksin booster apa yang akan diberikan?

Menurut Satgas COVID-19, kombinasi vaksin booster yang saat ini diberikan berdasarkan pertimbangan para peneliti dalam dan luar negeri serta sudah dikonfirmasi oleh Badan POM dan ITAGI, meliputi:

  • Untuk sasaran dengan vaksin primer Sinovac dapat diberikan separuh dosis Astrazeneca (0,25 ml), atau separuh dosis Pfizer (0,15 ml), atau dosis penuh Moderna (0,5 ml), atau dosis penuh Sinopharm (0,5 ml dosis), atau dosis penuh Sinovac (0,5 ml), atau dosis penuh Zifivax (0,5 ml)

  • Untuk sasaran dengan vaksin primer Astrazeneca dapat diberikan dosis penuh Astrazeneca (0,5 ml), atau separuh dosis Pfizer (0,15 ml), atau separuh dosis Moderna (0,25 ml)

  • Untuk sasaran dengan vaksin primer Pfizer dapat diberikan dosis penuh Pfizer (0,3 ml), atau separuh dosis Moderna (0,25 ml), atau dosis penuh Astrazeneca (0,5 ml)

  • Untuk sasaran dengan vaksin primer Moderna dapat diberikan separuh dosis Moderna (0,25 ml)

  • Untuk sasaran dengan vaksin primer Janssen (J&) dapat diberikan separuh dosis Moderna (0,25 ml)

  • Untuk sasaran dengan vaksin primer Sinopharm dapat diberikan dosis penuh Sinopharm (0,5 ml) atau dosis penuh Zifivax (0,5 ml)

Demikian gejala dan perkembangan COVID Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 yang perlu kamu ketahui. Segera lengkapi dosis vaksinasi agar imun tubuh kamu akan semakin kuat menghadapi virus tersebut. 

 

Hubungi Kami
Teras Mahakam (sebelah hotel Gran Mahakam)
Jl. Mahakam No.8, RT.1/RW.7, Kramat Pela,
Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan,
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12130
0217392285
business.support@okeklinik.com
help@okeklinik.com